Get Adobe Flash player

Refleksi Dalam Pengembangan Pengetahuan Klinis Pengelola Sekolah

Refleksi Dalam Pengembangan Pengetahuan Klinis Pengelola Sekolah

Pendidikan adalah urusan kemanusiaan. Orang yang bekerja di sekolah adalah orang yang berusaha menjadi profesional atau mereka harus belajar pengetahuan profesional yang diperoleh dari bekerja dengan cara melibatkan diri dengan orang-orang yang dilayani (siswa). Bekerja  di sekolah  dengan fokus pada fakta bahwa bagaimana sesuatu bekerja dalam berbagai situasi, terutama situasi kehidupan kemanusiaan. Kepala sekolah, guru dan pengawas sekolah adalah mereka yang berpikir tentang situasi, memutuskan-berdasarkan penyelidikan sehingga mereka memperoleh pengetahuan klinis terkait dengan pekerjaan.  Pengetahuan klinis seperti itu adalah bentuk pengetahuan profesional yang diperoleh melalui pengalaman langsung dalam praksis. Kepala sekolah, pengawas sekolah dan guru  seharusnya bertindak sesuai dengan standar dan etika profesional yang dikembangkan  dan diperoleh berdasarkan praktek-praktek kemanusiaan  yang melibatkan  refleksi atas pengalamannya dalam melayani siswa.

Kekuatan pengembangan pengetahuan klinis di sekolah akan selalu melibatkan refleksi. Refleksi  merupakan suatu bentuk respon seorang profesional terhadap pengalaman  yang dipicu oleh kontradiksi pengetahuan, keterampilan, atau kontradiksi sikap yang dimiliki dengan yang mereka alami.  Selanjutnya proses refleksi memerlukan analisis kritis untuk merekonstruksi pengalaman tersebut, termasuk evaluasi terhadap perasaan-perasaannya sehingga dapat mengembangkan perspektif baru terhadap situasi  atau membentuk struktur baru yang mendasari skema pengetahuan. Skema pengetahuan tentang kehidupan kemanusiaan yang lebih baik.

Pada tahap refleksi mereka memutuskan alternatif-alternatif tindakan  melalui interpretasi yang melibatkan fakta kemanusiaan (human life)disekolah. Tahap refleksi tidak akan berkembang apabila: (1) pengelola sekolah  beranggapan dunia tidak bisa diubah dan keberhasilan dari suatu tindakan dapat diulang-ulang seperti mereka lakukan sebelumnya, semuanya berjalan seperti biasanya; (2) menolak untuk dialog  dalam rangka merespon perubahan, seperti tercermin dalam kata-kata “ Saya tahu masalahnya sangat kompleks,  karena itu untuk apa melakukan perubahan” ; dan (3) belajar tetapi tidak melakukan upaya memahami lebih dalam mengenai apa yang dipelajarinya. Misalnya, tipe belajar dengan  mendapatkan berbagai informasi yang tercerai berai  tetapi tidak pernah mendapatkan ide pokoknya. [Perubahan sekolah ke arah yang lebih baik hampir tidak mungkin terjadi apabila sebagian besar orang menpunyai pandangan seperti ini].

Praktek-praktek profesional, di sekolah,  merupakan tempat yang kaya untuk menemukan pemahaman konstektual, melakukan eksplanasi, evaluasi dan generalisasi. Sulit, pengetahuan profesional berkembang dalam situasi dimana komunitas pengelola sekolah menpunyai tipologi bekerja tanpa refleksi atas keterlibatan dirinya dalam melayani siswa-siswa kita. “Pengetahuan klinis tidak bersumber atas otoritas birokrasi, tetapi berkembang secara otonom dalam konteks ketika kita bekerja”.

 

Jarvis, Peter (1992, p.72). Paradoxes of Learning: On Becoming an Individual in Society, San Francisco: Jossey Bass Pub

Levine,  Marsha ed. (1992, p. 109). Professional Practices School: Lingking Education Teacher and school Reform. Newyork: Teachers College, Columbia University.

 

Jurnal S1 Adpend