Get Adobe Flash player

PEDAGOGICAL LEADERSHIP

PEDAGOGICAL LEADERSHIP

PEDAGOGICAL LEADERSHIP UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH: SEBUAH TINJAUAN AWAL*)

Oleh: Cepi Triatna, S.Pd., M.Pd.**)

A.   Pendahuluan

Pendidikan persekolahan sampai saat ini masih menjadi bulan-bulanan banyak pihak karena hasil dan dampaknya yang belum sesuai dengan harapan.Banyak fenomena kejahatan, bencana, pengangguran, kemiskinan, dan kerusuhan dikaitkan dengan ketidakberhasilan pendidikan. Demikian halnya dengan rendahnya mutu pendidikan, dilihat dari daya saing SDM Indonesia saat ini dibandingkan dengan Negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, dan Negara lainnya.

Masalah rendahnya mutu ini dapat dilihat dari hasil studi yang diselenggarakan oleh IEA (International Organization for Evaluation of Educational Achievement) yang juga diikuti oleh Indonesia bersama beberapa negara lainnya dalam TIMSS (Trends in International Mathematic and Science Study). Study PISA (Programme for International Student Assesment) yang diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) pada tahun 2006 menunjukkan Indonesia menduduki urutan kelima dari bawah dari 54 negara. Berdasarkan parameter EDI (Education Development Index) Indonesia menduduki peringkat 71 (medium EDI).Data tersebut menunjukkan bahwa dilihat dari segi mutu, Indonesia masih tergolong negara dengan mutu pendidikan yang belum dapat dibanggakan. (Depdiknas, 2009:49).

Masalah mutu  ini bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan masalah siswa, masalah guru, masalah fasilitas, masalah manajemen sekolah, masalah sistem pendidikan, dan sebagainya. Marihot Manulang (2009) mengungkapkan tiga masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu (1) birokratisasi pendidikan yang kaku dan formalistik, (2) budaya sekolah (universitas) yang telah membeku dan (3) kehadiran pendidik yang sudah kehilangan harapan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa mutu pendidikan saat ini perlu perbaikan yang mendesak untuk menghasilkan SDM Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.Urgensi perbaikan mutu pendidikan ini juga menjadi prioritas pembangunan pendidikan tahun 2010-2015 sebagaimana tahapan pembangunan pendidikan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan Nasional yang tertuang dalam buku “Arah Pengembangan Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah” (2006:6) strategi pengembangan pendidikan dasar dan menengah dibagi atas 4 periode:

 * 2005 – 2010 : Peningkatan kapasitas dan modernisasi: pemerataan  akses, peningkatan IPM, dan penggunaan ICT

* 2010 – 2015 : Penguatan pelayanan untuk meningkatkan mutu dan daya saing dalam pelayanan pendidikan yang semakin besar, desentralisasi fiskal dan  otonomi daerah yang semakin dewasa.

* 2015 – 2020 : Daya saing regional: pengembangan mutu dan pelayanan pendidikan dasar dan menengah yang memiliki daya saing pada tingkat ASEAN.

* 2020 – 2025 : Daya saing internasional: pengembangan mutu dan pelayanan pendidikan dasar dan menengah berkelas internasional.

Pemecahan masalah mutu pendidikan harus dilakukan dengan berfokus pada business core(bidang pokok)pendidikan, yaitu pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar (KBM).Pendidikan pada dasarnya upaya menjadikan peserta didik menjadi manusia terdidik. Format manusia terdidik dalam perspektif UUSPN No. 20/2003 dinyatakan sebagai berikut:

“…manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Berdasarkan pola pemikiran seperti ini, maka setiap hal yang dilakukan dalam mengelola pendidikan nasional atau pendidikan di daerah selalu ditujukan untuk mewujudkan layanan pembelajaran terbaik yang mengarah pada perubahan perilaku peserta didik menjadi manusia utuh sebagaimana ditegaskan dalam UUSPN di atas.

Perwujudan mutu pembelajaran merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan yang dalam setting kelas utamanya diperani oleh guru sebagai pendidik professional sedangkan dalam setting sekolah utamanya diperani oleh kepala sekolah sebagai pemimpin, manajer, dan supervisor sekolah.

Berdasarkan paparan di atas, dapat dijelaskan dua hal, yaitu: (1) arah pendidikan persekolahan adalah mewujudkan perubahan perilaku peserta didik menjadi lebih baik mengarah pada perwujudan manusia utuh sebagaimana diharapkan oleh stakeholder sekolah dan menjadi perantara dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional, dan (2) peran utama untuk meningkatkan mutu pendidikan persekolahan pada setting kelas utamanya diperani oleh guru sedangkan pada setting sekolah utamanya diperani oleh kepala sekolah.Perwujudan dua hal di atas perlu dipecahkan melaluipedagogical leadership baik oleh guru maupun oleh kepala sekolah.

 B.    Memahami Pedagogical Leadership (apa, mengapa, dan bagaimana)

Istilah pedagogical leadershipmasih jarang terdengar dalam perkuliahan maupun praktek kepemimpinan persekolahan.Dalam Handbookof Educational leadership and Administration Vol. 1 (2006:99-100) istilah pedagogical leadershipdisebut sebagai bagian dari democratic leadership capacity yang juga merupakan bagian dari aspekcapacity building in organization.

Apa yang dimaksud pedagogical leadership?

Untuk memahami pengertian dan makna yang terkandung dalam konsep pedagogical leadership,terlebih dahulu kita harus memahami apa yang dimaksud dengan pedagogik. MacNeill, Cavanagh, dan Silcox mempelajari pedagogic dari berbagai sisi sebagai berikut:

G-CEPi-01

Sumber online:http://www.ucalgary.ca/iejll/vol9/silcox

Pandangan di atas menunjukkan bahwa pedagogik bukan sekedar pengajaran (instruction) atau didaktik (bagaimana suatu materi diajarkan) tetapi lebih pada proses pembudayaan, khususnya penanaman nilai dan kebiasaan, melalui interaksi sosial diantara peserta didik, guru dan lingkungan belajar.

Dengan pemahaman di atas penulis memberikan makna mengenai pedagogical leadership sebagai berikut: usaha untuk memfasilitasi, mendukung, dan mendorong guru-guru dan stakeholders sekolah untuk terjadinya proses pembudayaan, khususnya penanaman nilai dan pembiasaan perilaku peserta didik dan warga sekolah kepada suatu/seperangkat nilai yang disepakati oleh sekolah beserta stakeholdersnya.

Untuk kepentingan pendalaman dan perluasan wawasan, mari kita membandingkan definisi penulis di atas dengan beberapa definisi para ahli:

MacNeill, Cavanagh, dan Silcox mendefinisikanpedagogical leadership  sebagai “Pedagogic leadership is therefore an act that motivates others, thus facilitating culturally and morally aware learning in a second party.”

Sumber online:http://www.ucalgary.ca/iejll/vol9/silcox

Definisi di atas dapat dipahami bahwa pedagogical leadership  adalah tindakan untuk memotivasi orang lain, juga memfasilitasi sadar belajar pada anak secara budaya dan moral.

Mengapa pedagogical leadership  perlu dan mendesak bagi para kepala sekolah dan guru-guru di Indonesia saat ini? Hal ini tidak lain ditujukan untuk memecahkan masalah yang saat ini dihadapi oleh pendidikan persekolahan di Indonesia, yaitu pendidikan persekolahan yang hilang dari ruhnya. Tim Pusat Pengkajian Pedagogik UPI (2010:4) mengungkapkan:

“permasalahan pendidikan saat ini adalah (1) ketidaksesuaian praktek dan penyelenggaraan pendidikan kita dengan filsafat yang mendasarinya, yaitu filsafat pancasila (2) hilangnya spiritualitas dalam rutinitas dan inovasi penyelenggaraan pendidikan.

Bagaimana pedagogical leadershipdiiimplementasikan dalam konteks persekolahan oleh kepala sekolah dan guru?

Untuk menjawab hal ini, mari kita dalami bandingkan instructional leadership danpedagogical leadership yang dikaji oleh MacNeill, Cavanagh, dan Silcox, berikut ini.

G-CEPi-02

Sumber online:http://www.ucalgary.ca/iejll/vol9/silcox

Dengan kata lain, apa yang harus dilakukan kepala sekolah yang mengeimplementasikanpedagogical leadership adalah:

  1. Memfokuskan perhatian dan usahanya untuk perbaikan dan peningkatan belajar peserta didik;
  2. Mengupayakan guru-guru, laboran, pustakawan, teknisi, dan tenaga administrasi sekolah (TAS) untuk melihat kebutuhan dan minat peserta didik (bukan ditentukan oleh  keterlaksnaan kurikulum) dalam meberikan layanan kepada peserta didik;
  3. Menjamin pembelajaran yang dialami oleh peserta didik selalui dikaitkan dengan kejadian-kejadian nyata/kehidupan keseharian anak;
  4. Menjadikan tes sebagai bagian dari proses pembelajaran dan menjadi informasi berharga bagi capaian peserta didik dalam belajarnya;
  5. Menstimulus guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk menjalani pekerjaanya sebagai profesi yang dicirikan oleh pengabdian, bukan hanya keahlian;
  6. Memberikan kepercayaan kepada guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk menjadi pemimpin di sekolah;
  7. Memimpin sekolah dengan orientasi pada membangun komunitas pembelajar, bukan pada manajerial sekolah semata;
  8. Memposisikan diri sebagai pemimpin pembelajar professional bukan sebagai pengajar bagi guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya;
  9. Mendasarkan tindakan dalam mengelola sekolah secara moral dan fasilitatif bukan untuk kepentingan praktis.

 C.   Pendidikan Karakter di Sekolah

Dalam konteks implementasi pembelajaran yang mendidik (pedagogi) perlu diimplementasikanpedagogical leadership.Apa dan bagaimana setting pendidikan di karakter di sekolah perlu menjadi pemikiran kita bersama. Mari kita amati kerangka berikut:

G-CEPi-03

Gambar 1 Kerangka setting pendidikan karakter

Gambar di atas menunjukkan bahwa setting KBM untuk penumbuhkembangan suatu karakter bukan hanya di kelas saja tetapi juga di sekolah dan bahkan rumah.Artinya guru harus mendesain juga bagaimana pengalaman belajar anak di sekolah (diluar kelas) dan di rumah selain di kelas.Untuk menunjang hal tersebut, maka keterlibatan orang tua dalam penumbuhkembangan karakter anak menjadi suatu keniscayaan.Dengan demikian KTSP harus mampu mengintegrasikan kegiatan anak di rumah dengan tuntutan penguatan tumbuhkembang karakter anak.

Dalam hal ini kepala sekolah bertanggungjawab untuk mengarahkan penyusunan indikator pembelajaran, desain pembelajarannya, dan evaluasi serta pengembangannya mengarah pada sinergi tiga tempat tersebut.

G-CEPi-04

Gambar 2 Kerangka setting evaluasi karakter peserta didik

D. Implementasi Pedagogical Leadershipoleh guru untuk Mewujudkan Pendidikan Karakter di Sekolah

Apa peran guru dalam pendidikan karakter? Perlu kita dalami apa sebenarnya yang perlu dilakukan oleh guru untuk mengimplementasikan pendidikan karakter dalam setting pendidikan persekolahan. Apabila kita cermati gambar 1 di atas, dapat dipahami bahwa kerangka pendidikan karakter sangat berbeda dengan pengajaran yang biasanya dilakukan oleh guru-guru saat ini (pengajaran), yaitu:

Tabel 1 Perbedaan antara pengajaran dan pendidikan karakter dilihat dari sudut pandang guru

G-CEPi-05

Dengan kajian terhadap table 1 di atas, dapat dipahami bahwa guru memiliki tugas yang sangat berbeda ketika melaksanakan “pendidikan karakter” di sekolah dibandingkan dengan “pengajaran.”

E. Penutup

Demikian sebuah kajian awal mengenai bagaimana kepala sekolah dan guru mengimplementasikanpedagogical leadership  di sekolah dalam rangka mewujudkan pendidikan karakter yang mampu menghasilkan lulusan yang berkarater dan berprestasi secara kademik. Semoga kajian ini membawa/menstimulus banyak pihak untuk mendalami dan kengkaji lebih jauh mengenai pendidikan karakter di persekolahan.

 Referensi

Dharma Kesuma, dkk.(2009). Suplement Kurikulum Pendidikan Karakter Sekolah Avicenna. Bandung: CV. Alfa Orient.

Lickona, Thomas. (1989). Educating for Character: How our Schools can Teach Respect and Responsibility. USA: New York Time Company.

Manulang, Marihot. (2010). Mendiknas dan Problematika Pendidikan  KitaTersedia online:http://hariansib.com/?p=96786 12 April 2010.

MacNeill, Neil. Cavanagh, Robert F. dan Silcox, Steffan.Pedagogic Leadership: Refocusing on Learning and Teaching. Tersedian online:http://www.ucalgary.ca/iejll/vol9/silcox 12 April 2010.

Tim Pusat Pengkajian Pedagogik. (2010).MemikirkanKembali Filsafat dan Pendidikan Indonesia dan Pemecahan Masalah Bangsa Indonesia.Bahan Masukan bagi Kementrian Pendidikan Nasional. Bandung: Pusat Pengkajian Pedagogik UPI.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional.

Jurnal S1 Adpend