SEKILAS INFO
20-01-2018
  • 3 hari yang lalu / Departemen Administrasi Pendidikan FIP UPI memperoleh Akreditasi “A” dari BAN-PT
27
Nov 2017
0
Implementasi Manajemen Pendidikan Karakter di Taman Kanak-kanak Khas Daarut Tauhid, Bandung

Oleh:

Diding Nurdin

 

PENDAHULUAN
Pada diri seorang anak terdapat potensi untuk tumbuh dan berkembang   sesuai dengan penciptaan-Nya. Potensi
anak akan berkembang dengan baik apabila memperoleh pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu dapat diupayakan melalui kerjasama yang baik antara orang tua dan guru. Namun, karena banyak orang tua yang tidak dapat melakukan sendiri pendidikan sejak dini terhadap anaknya, maka pendidikan anak usia dini dilakukan dalam lingkungan  pendidikan anak usia dini, yaitu TK (Taman Kanak-kanak). Lingkungan pendidikan anak usia dini atau TK menjadi pendidikan yang amat mendasar bagi pembentukan karakter anak sejak dini. Pembentukan
karakter anak membutuhkan suatu proses yang panjang dalam pengasuhan dan pembinaannya (Muslich, 2011).
Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini.
Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar mengatakan bahwa kegagalan
penanganan karakter pada seseorang sejak usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak (cf Budiyono, 2007; Syafaat & Sahrani, 2008; dan Muslich, 2011).
Selain itu, menanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis (Megawangi, 2004:23). Atau seperti yang dikatakan oleh Thomas Lickona (1994) bahwa “a child is the only known substance from which a responsible adult can be made”. Dengan demikian, seorang anak adalah satu-satunya “bahan bangunan” yang
diketahui dapat membentuk seorang dewasa yang bertanggung jawab (Lickona, 1994:22).
Pendidikan anak usia dini, pada dasarnya, meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik
dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan, dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan, dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari lingkungan melalui cara mengamati, meniru, dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak (Nurani, 2009:7). Untuk itu, dibutuhkan upaya kolaboratif antara pendidik dan orang tua dalam membentuk karakter anak usia dini. Peran guru anak usia dini sebagai fasilitator, bukan pentransfer ilmu pengetahuan semata, karena ilmu tidak dapat ditransfer dari guru kepada anak tanpa keaktifan anak itu sendiri (Surya, 2013; dan Wiyani, 2013). Dalam proses pembelajaran, tekanan harus diletakkan pada pemikiran guru. Oleh karenanya, penting bagi guru untuk dapat mengerti cara berfikir anak, mengembangkan dan menghargai pengalaman anak, memahami bagaimana anak mengatasi suatu persoalan, menyediakan dan memberikan materi sesuai dengan taraf perkembangan kognitif anak agar lebih berhasil membantu anak berfikir dan membentuk pengetahuan, serta menggunakan berbagai metode belajar bervariasi yang memungkinkan anak aktif mengkonstruksi pengetahuan (Carton & Allen, 1999:59). Peran guru untuk memfasilitasi, membimbing, dan membina anak usia dini penting sekali. Sifat dan sikap guru dalam membiasakan anak usia dini dalam melakukan suatu kebaikan akan tertanam dalam diri anak. Pendidikan karakter sejak usia dini oleh orang tua dan guru akan menghantarkan pada kekuatan moral yang kuat pada anak untuk bekal hidupnya di masa dewasa. Sebaliknya, jika pendidikan karakter dilakukan pada saat menjelang dewasa akan banyak menemui kesulitan (Budiyono, 2007; Syafaat & Sahrani, 2008; Muslich, 2011; Surya, 2013; dan Wiyani, 2013). Hal ini sependapat dengan Muhammad Nur Abdul Hafizh (1999) dan Abu Bakar Jabir al-Jazair (2004), yang mengemukakan bahwa sebenarnya sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak bukanlah lahir dari fitrah mereka. Sifat-sifat tersebut timbul, terutama, karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik  (Hafizh, 1999; dan al-Jazair, 2004). Semakin dewasa usia anak, semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruknya, tetapi tidak mampu mengubahnya. Karena sifat-sifat buruk itu sudah kuat mengakar di dalam dirinya dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Maka, berbahagialah para orang tua yang selalu memperingati dan mencegah anaknya dari sifat-sifat buruk sejak dini, karena dengan demikian, mereka telah menyiapkan dasar kuat bagi kehidupan anak di masa datang (Wiyani, 2013). Pendidikan pertama dan utama sebenarnya bisa dimulai oleh orang tua sejak usia dini. Usia dini merupakan usia yang paling dekat dengan orang tua, terutama seorang ibu. Ratna Megawangi (2004) mengemukakan bahwa pendidikan moral pada usia dini harus dilakukan sejak anak dilahirkan, dan pada usia di bawah 2 tahun dapat dilakukan hanya dengan memberikan kasih sayang sebesar-besarnya kepada anak (Megawangi, 2004). Lebih lanjut, J. Dunn (1987) mengemukakan bahwa apabila masa usia 2 tahun pertama anak sudah mendapatkan cinta, maka sangat mudah anak tersebut dibentuk menjadi manusia yang berakhlak mulia (Dunn, 1987). Hasil penelitian lain menunjukan bahwa anak-anak usia 2 tahun sudah dapat diajarkan nilai-nilai moral, bahkan mereka sudah mempunyai perasaan empati terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain, misalnya, ketika ia melihat raut wajah ibunya yang sedih, ia dapat mengekspresikan empatinya (cf Gunarsa, 1989; Hurlock, 1994; Santrock, 2003; dan Nurhidayati, 2012). M.L. Hoffman (1987) menguatkan bahwa rasa empati adalah sifat alami yang sudah ada sejak anak dilahirkan, yang merupakan sumber dari moralitas individu, seperti rasa iba dan rasa ingin berbuat baik (Hoffman, 1987). Perkembangan rasa empati pada diri anak akan tumbuh dengan positif apabila kasih sayang orang tua diberikan sepenuhnya dalam proses pendidikan di dalam keluarga. Dengan demikian, empati pada diri anak akan tumbuh-kembang apabila ibunya berperan dengan baik di dalam pengasuhan anaknya. Hal ini dikuatkan oleh E. Neuman (1990) bahwa bagaimana empati dapat terus tumbuh subur adalah tergantung dari emotional bonding dari ibunya pada usia-usia awal kehidupan seorang anak (Neuman, 1990). Pendidikan karakter yang dilakukan di lingkungan TK dengan perencaan yang matang, pelaksanaan yang terintegrasi dengan pendidik dan orang tua, serta penilaian perkembangan karakter anak ketika berada di lingkungan pendidikan TK dan di lingkungan rumah akan memberikan gambaran tentang karakter anak dalam proses perkembangan anak pada usianya (Budiyono, 2007; Syafaat & Sahrani, 2008; Muslich, 2011; Surya, 2013; dan Wiyani, 2013). Mengingat pentingnya pendidikan karakter sedini mungkin, maka hendaknya setiap sekolah, terutama sekolah TK (Kaman Kanak-kanak) dan SD (Sekolah Dasar) dapat menerapkan pendidikan karakter di sekolahnya (Megawangi, 2004). Berbagai upaya pendidikan karakter di Indonesia terus dilakukan dengan berbagai program, yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta atau masyarakat. Salah satu jenjang pendidikan yang banyak diselenggarakan oleh masyarakat atau swasta adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). PAUD yang dijadikan lokasi penelitian ini adalah TK Khas DT (Daarut Tauhiid) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. TK Khas DT menarik untuk dijadikan lokasi penelitian karena tiga alasan. Pertama, TK Khas DT berada dalam lingkungan pondok pesantren. Kedua, TK Khas DT memiliki karakteristik yang berbeda dengan TK yang dikelola oleh lembaga lain. Dan, ketiga, TK Khas DT berupaya mengimplementasikan manajemen pendidikan karakter dalam proses pembelajaran dan pembinaannya. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana IMPK (Implementasi Manajemen Pendidikan Karakter) yang dilaksanakan di TK Khas DT di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. IMPK yang diteliti meliputi desain pendidikan karakter, pelaksanaan pembelajaran, pembiasaan dan pembinaan karakter pada anak usia dini, serta bagaimana evaluasi pendidikan karakter yang diterapkan oleh guru dan orang tua anak usia dini di TK Khas DT di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif (Bogdan & Biklen, 1982; Johnson & Christensen, 2004; dan Creswell, 2010). Peneliti melakukan kajian dengan fokus studi pada IMPK (Implementasi Manajemen Pendidikan Karakter) di TK (Taman Kanak-kanak) Khas DT (Daarut Tauhiid) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna subjektif yang dikemukakan oleh subjek penelitian terkait dengan suatu fenomena yang menjadi objek penelitian (Camic, Rhodes & Yardley, 2003). Pengumpulan data dilakukan melalui oservasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang relevan dengan topik kajian ini. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, dan perwakilan orang tua (komite sekolah) dari TK Khas DT di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Peneliti melakukan pengumpulan data melalui observasi partisipan berkaitan dengan pembiasaan pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan TK Khas DT. Sedangkan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dilakukan untuk memperoleh makna yang sebenarnya berkaitan dengan topik-topik spesifik melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka kepada subjek yang diwawancarai (Bogdan & Biklen, 1982; dan Johnson & Christensen, 2004). Data berupa dokumentasi dikumpulkan dan dianalisis sebagai data pendukung untuk memperkaya hasil observasi dan wawancara. Seluruh data dicatat dan direkam, kemudian ditranskripsikan dan dianalisis segera setelah pengadministrasian selesai dikerjakan. Untuk keabsahan data dilakukan validasi agar kesimpulan yang dibuat peneliti tidak bertentangan dengan subjek penelitian (Johnson & Christensen, 2004; dan Creswell, 2010).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian. Berdasarkan hasil analisis data yang terkumpul melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, hasil penelitian tentang IMPK (Implementasi Manajemen Pendidikan Karakter) di TK (Taman Kanak-kanak) Khas DT (Daarut Tauhiid) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia dapat dideskripsikan berdasarkan tiga kajian utama, yaitu: desain pendidikan karakter, pelaksanaan pendidikan karakter, dan evaluasi pendidikan karakter anak. Hasil penelitian itu telah divalidasi melalui konfirmasi kepada para subjek, yaitu kepala sekolah dan guru. Para subjek mengerti dan memahami tentang bagaimana pentingnya pendidikan karakter ditanamkan sejak usia dini. KS (Kepala sekolah) telah memberikan berbagai informasi berkaitan dengan implementasi pendidikan karakter pada anak di TK Khas DT (wawancara dengan Responden A, 2/3/2016). Para guru memberikan informasi penting tentang bagaimana penerapan pendidikan karakter di lingkungan TK dalam berbagai kegiatan dan pembiasaan terhadap anak (wawancara dengan Responden B, 9/3/2016). Subjek mendeskripsikan bahwa pendidikan karakter di TK Khas DT di Bandung berupaya menerapkan konsep “BaKu”. BaKu ini merupakan singkatan dari Ba (Baik) dan Ku (kuat). “Baik” yang dimaksud adalah sifat yang akan ditanamkan kepada anak, yaitu ikhlas, jujur, dan tawadhu. Sedangkan “Kuat” adalah sifat yang akan ditanamkan kepada anak, yaitu disiplin, berani, dan tangguh (wawancara dengan Responden A, 2/3/2016; dan wawancara dengan Responden B, 9/3/2016). Implementasi pendidikan karakter “BaKu” ini merupakan konsep dari K.H. (Kyai Haji) Abdullah Gymnastiar, pendiri dan pimpinan Pesantren DT (Daarut Tauhiid) di Bandung, yang sudah dituangkan dalam sebuah buku berjudul Membangun Karakter BaKu (Baik & Kuat), pada tahun 2013. Implementasi pendidikan karakter BaKu diterapkan melalui tiga tahapan. Dalam konteks ini, KS (Kepala Sekolah) mengemukakan ketiga tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Lebih lanjut KS mengatakan bahwa pada tahap perencanaan itu dilakukan persiapan dengan menetapkan tujuan: (1) agar para guru mengenal dan memahami anak seutuhnya, sesuai dengan tahap perkembangan dan karakteristiknya; serta (2) agar nilai-nilai pendidikan karakter diterapkan menyatu dengan kegiatan inti proses belajar-mengajar, dengan cara memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan tema dan judul kegiatan pembelajaran, menentukan indikator perkembangan nilai-nilai karakter sesuai dengan tahap perkembangan anak, dan menentukan jenis dan tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan (wawancara dengan Responden A, 2/3/2016). Pada tahap perencanaan ini, para guru membekali diri dengan pemahaman yang benar berkaitan dengan tahapan perkembangan dan karakteristik anak usia dini serta mempersiapkan tema, metode pembelajaran, serta menentukan jenis dan rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan (wawancara dengan Responden A, 2/3/2016; dan wawancara dengan Responden B, 9/3/2016). Pada tahap pelaksanaan pendidikan karakter BaKu, KS juga mengemukakan bahwa ada dua hal yang penting, yaitu: (1) pelaksanaan kegiatan terprogram melalui cara menggali pemahaman anak untuk tiap-tiap nilai karakter, membangun penghayatan anak dengan melibatkan emosinya untuk menyadari pentingnya menerapkan nilai karakter, mengajak anak untuk bersama-sama melakukan nilai-nilai karakter yang diceritakan, dan ketercapaian tahapan perkembangan anak didik; serta (2) pelaksanaan kegiatan pembiasaan dilakukan melalui kegiatan rutin yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten setiap saat, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengkondisian (wawancara dengan Responden A, 2/3/2016). Pada tahap pelaksanaan pendidikan karakter ini, para guru terlibat secara  langsung dengan penuh perhatian, pembimbingan, pengarahan, pembiasaan, memperagakan, dan mengulang-ulang kata-kata yang baik, yang diikuti oleh anak. Pada tahap pelaksanaan pendidikan karakter ini ada yang dilaksanakan di ruang kelas, di halaman sekolah, di aula, di lapangan olahraga, dan di masjid. Pelaksanaan pendidikan karakter di TK Khas DT di Bandung menjadi inti penanaman nilai-nilai karakter pada anak. Para guru mendeskripsikan pentingnya sifat-sifat guru yang harus sabar, penuh kasih sayang, dan tanggung jawab yang tinggi dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak (wawancara dengan Responden B, 9/3/2016). Tahap selanjutnya dalam IMPK adalah untuk mengetahui sejauhmana perkembangan anak dalam pendidikan karakter di TK Khas DT di Bandung. Mengacu pada dokumen penilaian berupa laporan perkembangan anak dan deskripsi dari KS dan guru bahwa penilaian penanaman nilai-nilai karakter dapat dilakukan melalui kegiatan, yaitu: pengamatan, penugasan, unjuk kerja, pencatatan anekdot, percakapan atau dialog, laporan orang tua, dokumentasi, hasil karya atau portofolio, dan deskripsi profil anak (wawancara dengan Responden A, 2/3/2016; dan wawancara dengan Responden B, 9/3/2016). KS dan guru mengemukakan bahwa untuk melihat perkembangan anak dalam pendidikan karakter itu diberi tiga simbol penilaian yang menggambarkan tingkat pencapaian perkembangan anak, yaitu berupa simbol berikut ini: = anak mampu tanpa bimbingan guru. = anak mampu dengan bimbingan guru. = anak perlu bimbingan guru. Pembahasan. Pendidikan seharusnya disusun dalam suatu rencana kegiatan pendidikan, yang diarahkan pada tiga peran PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), yaitu: (1) Pendidikan sebagai proses belajar dalam diri anak; (2) Pendidikan sebagai proses sosialisasi; dan (3) Pendidikan sebagai proses pembentukan kerjasama peran (Nurani, 2009:16). Pengelola PAUD hendaknya memiliki kriteria yang amanah, kompeten, dan profesional dalam penyelenggarannya (Surya, 2013; Wiyani, 2013; dan wawancara dengan Responden C, 16/3/2016). Pendidikan karakter anak usia dini perlu direncanakan dengan matang agar dapat mencapai tujuannya. Implementasi manajemen pendidikan karakter didasarkan pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian anak usia dini. Perencanaan pendidikan karakter diimplementasikan melalui peran guru dalam perencanaan kebutuhan pembelajaran anak-anak (Budiyono, 2007; Syafaat & Sahrani, 2008; dan Muslich, 2011). Para guru perlu merencanakan kebutuhan anak-anak untuk aktivitas mereka, perhatian, stimulasi, dan kesuksesan melalui keseimbangan dan kesatupaduan di dalam kelas dan melalui implementasi desain kegiatan yang terencana. Guru juga merencanakan kegiatan rutin beserta peralihannya. Anakanak harus dapat berpindah secara efektif dari satu area ke area yang lain secara aman, tidak terburu-buru, baik di dalam kelompok maupun individual, sampai mereka telah siap (Gunarsa, 1989; Hurlock, 1994; Santrock, 2003; Nurhidayati, 2012; dan wawancara dengan Responden B, 9/3/2016). Guru dapat mempersiapkan aktivitas dan menciptakan suasana yang dapat menstimulasi anak dan membantu mereka memilih aktivitas atau permainan yang tepat. Guru juga harus fleksibel dan dapat menggunakan aktivitas alternatif, tergantung pada perubahan kondisi, perbedaan ketertarikan pada anak, dan situasi yang luar biasa (Nurani, 2009:14; Surya, 2013; dan Wiyani, 2013). Dalam konteks ini, Ratna Megawangi (2004) mengemukakan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekanya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya (Megawangi, 2004). Nilainilai karakter yang perlu ditanamkan kepada anak-anak adalah nilai-nilai universal, yang mana seluruh agama, tradisi, dan budaya pasti menjungjung tinggi nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai universal itu harus dapat menjadi perekat bagi seluruh anggota masyarakat, walaupun berbeda latar belakang budaya, suku, dan agama (Budiyono, 2007; Syafaat & Sahrani, 2008; dan Muslich, 2011). Pelaksanaan pendidikan karakter adalah dengan menanamkan nilai-nilai universal yang penting untuk dijadikan fokus pendidikan karakter. Menurut D. Brooks & D. Goble (1997), dalam Deklarasi Aspen dihasilkan enam etik utama atau core ethical values, yang disepakati untuk dijadikan dalam sistem pendidikan karakter di Amerika Serikat, yang meliputi: (1) dapat dipercaya atau trustworthy meliputi sifat jujur atau honesty dan integrity; (2) memperlakukan orang lain dengan hormat atau treats people with respect; (3) bertanggung jawab atau responsible; (4) adil atau fair; (5) kasih sayang atau caring; dan (6) warga negara yang baik atau good citizen (Brooks & Goble, 1997). Sementara itu, IHF (Indonesia Heritage Foundation) menyusun 9 pilar nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu: (1) cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya atau love Allah, trust, reverence, loyality; (2) kemandirian dan tanggung jawab atau responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness; (3) kejujuran, amanah, bijaksana atau trustworthiness, reliability, honesty; (4) hormat dan santun atau respect, courtessy, abedience; (5) dermawan, suka menolong, dan gotong-royong atau love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation; (6) percaya diri, kreatif, dan pekerja keras atau confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination and enthusiasm; (7) kepemimpinan dan keadilan atau justice, fairness, mercy, leadership; (8) baik dan rendah hati atau kindness, friendliness, humility, modesty; serta (9) toleransi, kedamaian, dan kesatuan atau tolerance, flexibility, peacefulness, unity (dalam Megawangi, 2004; dan Haryati, 2017). Dalam implementasi pendidikan karakter, Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga karakter yang baik atau components of good character, yaitu: (1) moral knowing atau pengetahuan tentang moral; (2) moral feeling atau perasaan tentang moral; serta (3) moral action atau perbuatan moral (Lickona, 1992). Ketiga karakter yang baik tersebut diimplementasikan di TK (Taman Kanakkanak) Khas DT (Daarut Tauhiid) di Bandung melalui kegiatan pembelajaran dan permainan yang telah dirancang dalam kegiatan harian, kegiatan mingguan, dan kegiatan bulanan (wawancara dengan Responden A, 2/3/2016; wawancara dengan Responden B, 9/3/2016; dan wawancara dengan Responden C, 16/3/2016). Perkembangan anak usia dini dapat diketahui dengan melakukan penilaian. Penilaian dilakukan oleh guru terhadap perkembangan pendidikan karakter anak di lingkungan sekolah. Sedangkan penilaian perkembangan anak di lingkungan keluarga dilakukan oleh orang tua. Penilaian ini berfungsi untuk memberikan informasi perkembangan pendidikan anak yang telah, sedang, dan akan dilakukan dalam proses pembinaan pendidikan karakter (Yus, 2005). Menurut Patrix Griffin & Petter Nix (1991), penilaian adalah kegiatan untuk menentukan nilai suatu program, termasuk program pendidikan (Griffin & Nix, 1991). Sementara itu, W. Alexander Astin (1993) mengemukakan bahwa penilaian merupakan suatu proses mengumpulkan informasi secara sistematik untuk membuat suatu keputusan tentang individu (Astin, 1993). Sedangkan Howard Gradner (2002) mengemukakan bahwa penilaian merupakan upaya memperoleh informasi mengenai keterampilan dan potensi diri seseorang dengan dua sasaran: (1) memberikan umpan balik yang bermanfaat kepada individu yang bersangkutan; dan (2) sebagai data yang berguna bagi masyarakat yang ada di sekitarnya (Gradner, 2002). Informasi dan keputusan hasil penilaian tidak hanya memberikan gambaran tentang keberhasilan yang dicapai oleh individu anak dalam pendidikan karakter, namun juga memberikan gambaran yang berguna bagi guru dan orang tua (Nurani, 2009; Surya, 2013; dan Wiyani, 2013). Melalui penilaian ini, guru akan mengetahui apakah tujuan pendidikan karakter dapat tercapai atau belum tercapai. Penilaian pendidikan karakter juga untuk mengetahui anak-anak yang berhasil mencapai perkembangan tertentu dan mana yang belum tercapai, sehingga dengan adanya penilaian perkembangan pendidikan karakter ini dapat ditetapkan keputusan: apakah pembelajaran dilanjutkan atau diulang untuk perbaikan perkembangan anak tersebut (Suharsimi, 1999; Hidayatullah, 2010; dan Fitri, 2012). Simbol penilaian, sebagaimana yang dilakukan di TK Khas DT di Bandung, Jawa Barat, Indonesia, memberikan keputusan tentang anak yang dapat melakukan kegiatan tanpa bimbingan guru, termasuk yang mencapai keberhasilan tertinggi. Sedangkan anak yang mampu melakukan kegiatan dengan bimbingan guru perlu ditingkatkan lagi kemandiriannya. Dan anak yang belum mampu melakukan kegiatan sendiri memperoleh pembinaan secara penuh dari guru (Hidayatullah, 2010; dan Fitri, 2012; Surya, 2013; dan Wiyani, 2013; wawancara dengan Responden A, 2/3/2016; dan wawancara dengan Responden B, 9/3/2016). Dengan demikian, penilaian tersebut dapat menjadi umpan balik bagi guru untuk meningkatkan terus profesionalismenya. Sedangkan bagi orang tua untuk memberikan umpan balik agar perhatian terhadap pendidikan karakter di rumah perlu ditingkatkan lagi tanggungjawabnya (Hidayatullah, 2010; Wiyani, 2013; wawancara dengan Responden B, 9/3/2016; dan wawancara dengan Responden C, 16/3/2016). Menurut A. Suharsimi (1999), sasaran penilaian adalah segala sesuatu yang menjadi pusat pengamatan, karena penilai menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut. Penilaian yang berkaitan dengan perkembangan anak tentunya tidak dapat mengabaikan aspek-aspek yang berkaitan dengan kegiatan pelaksanaan program itu sendiri (Suharsimi, 1999). Sasaran penilaian meliputi unsur input, transformasi, dan output. Aspek input meliputi potensi yang ingin dikembangkan yang ada pada diri anak. Aspek-aspek tersebut terdiri dari enam dimensi pengembangan, yaitu: fisik, kognitif, bahasa, seni, sosial-emosional, moral, dan nilai-nilai agama. Aspek transformasi terdiri dari materi, metode dan media pembelajaran, sistem administrasi, serta personal lainnya. Sedangkan aspek output meliputi seberapa jauh anak mencapai tujuan yang telah ditetapkan, atau seberapa jauh anak memiliki dasar-dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan diri selanjutnya (cf Suharsimi, 1999; Hidayatullah, 2010; dan Fitri, 2012).

KESIMPULAN

Implementasi manajemen pendidikan karakter pada TK (Taman Kanak-kanak) Khas DT (Daarut Tauhiid) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia melalui tiga tahap, yaitu: tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga tahapan implementasi manajemen pendidikan karakter ini merupakan satu kesatuan arah yang tidak bisa dipisahkan dalam pembentukan karakter BaKu (Baik dan Kuat) di TK Khas DT. Pendidikan karakter pada anak usia dini melalui proses perencanaan yang sistematis agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana yang telah disusun. Pada tahap pelaksanaan pendidikan karakter, peran guru sebagai fasilitator, pembimbing, pembina, dan pengasuh sangat penting dalam proses penanaman nilai-nilai karakter pada diri anak sejak dini. Guru dengan penuh kasih sayang, perhatian, dan keteladanan dalam mendidik anak usia dini menjadi sangat menentukan keberhasilan, karena interaksi anak dengan guru sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan karakter anak. Pada tahap ketiga, yaitu penilaian, pendidikan karakter pada anak dilakukan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan pendidikan karakter yang telah tercapai pada diri anak. Laporan penilaian perkembangan karakter anak di lingkungan sekolah dilakukan oleh guru, sedangkan laporan penilaian perkembangan karakter anak di rumah dilakukan oleh orang tua. Hasil penilaian perkembangan karakter anak di sekolah dan di rumah menjadi umpan balik bagi guru dan orang tua untuk meningkatkan secara terus-menerus peran mereka masingmasing agar pembentukan karakter BaKu (Baik dan Kuat) dapat tercapai sesuai dengan perkembangan usia anak.

Referensi

Al-Jazair, Abu Bakar Jabir. (2004). Ensiklopedi Muslim. Jakarta Timur: PT Darul Falah, Terjemahan, cetakan ketujuh. Astin,

  1. Alexander. (1993). Assessment for Excelence. Phonix: The Oryx Press. Bogdan, R.C. & S.K. Biklen. (1982). Qualitative Research for Education. Boston:

Allyn & Bacon. Brooks, D. & D. Goble. (1997). The Case for Character Education: The Role of the School in Teaching Values and Virtue. California: Studio 4.

Budiyono, Kabul. (2007). Nilai-nilai Kepribadian dan Kejuangan Bangsa Indonesia. Bandung: Alfabeta. Camic, P.M., J.E. Rhodes & L. Yardley. (2003). “Naning the Stars: Integrating Qualitative Methods into Psychological Research” in P.M. Camic, J.E. Rhoders & L. Yardley [eds]. Qualitative Research in Psychology. Washington, D.C.: American Psychological Association, pp.3-16. Carton, Carol E. & Jan Allen. (1999). Early Childhood Curriculum: A Creative Play Model. New Jersey: Merill Publication, 2nd edition. Creswell, J.W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Terjemahan, edisi ketiga.

Dunn, J. (1987). “The Beginnings of Moral Understanding: Development in the Second Year” in Jerome Kagan & Lamb Haron [eds]. The Emergence of Morality in Young Children. Chicago: The University of Chicago Press.

Pengumuman Terbaru

Pembukaan P2M BEM Departemen Adpend

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat 2018

Pelepasan Purna Bakti Pegawai FIP UPI

Agenda Terbaru

20 January
waktu : 08.19

Upacara ASN dan Hari Ibu