SEKILAS INFO
17-06-2019
  • 1 minggu yang lalu / Pimpinan Dept. Adpend mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1440 H
4
Apr 2019
0
EFEKTIVITAS MANAJEMEN MUTU PEMBELAJARAN  GURU BIDANG PRODUKTIF  DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

EFEKTIVITAS MANAJEMEN MUTU PEMBELAJARAN

GURU BIDANG PRODUKTIF  DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN 

Endang Herawan1), Suryadi2)

Departemen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia

  1. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung 40154, Indonesia

1)endangherawan@upi.edu,

2) suryadi@upi.edu

 

ABSTRAK  

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas manajemen mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru pengampu mata pelajaran rumpun bidang produktif pada SMK Kelompok Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen. Masalah yang diteliti meliputi bagaimana penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan  pembelajaran, evaluasi dan  tindak lanjut evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Penelitian ini penting dilakukan karena guru SMK sebagai ujung tombak dalam pembelajaran di sekolah, dimana guru diberikan kewenangan dalam mengembangkan kurikulum  atau program pembelajaran. Kurikulum yang disusun guru berupa kurikulum implementatif yang  diimplementasikan di sekolah. Dalam  penyusunan kurikulum serta dalam pelaksanaannya perlu menerapkan prinsip manajemen mutu sehingga kurikulum implementatif yang disusun relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik dengan metode kualitatif. Responden dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Ketua Kompetensi Keahlian, Guru-guru di SMKN 1 Bandung dan SMKN 3 Bandung.   Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, paradigma yang digunakan dalam pengembangan kurikulum pada ke dua SMK Negeri ini  adalah demand/market driven dan life skills. Kedua, pelaksanaan pendidikan menggunakan sistem ganda (PSG), dalam pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah, dan model pembelajaran yang digunakan: a). Discovery learning, b) Inquery learning, c) problem based learning, d) Project based training, untuk Pembelajaran di dunia kerja dilaksanakan melalui program Praktek kerja industri. Ketiga, evaluasi Pembelajaran yang dilakukan oleh Guru kelompok Mata Pelajaran produktif   dilaksanakan  secara menyeluruh yang meliputi aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan pada setiap substantif yang dipelajari. Keempat, tindak lanjut dari kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh Guru bidang produktif, penyusunan laporan hasil belajar dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran, membantu siswa yang belum mencapai kompetensi melalui pembelajaran remedial dan pengayaan.

 

KATA KUNCI : Efektivitas, Manajemen Mutu, Pembelajaran, Guru Produktif

 

  1. PENDAHULUAN

SMK merupakan lembaga pendidikan kejuruan yang bertujuan untuk meningkatkan  pengetahuan dan keterampilan siswa, untuk menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah yang terampil, terdidik, dan profesional, serta mampu mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni (IPTEKS).Pendidikan kejuruan diberikan peran untuk menghasilkan manusia yang produktif, yakni manausia kerja, bukan manusia beban bagi keluarganya, masyarakat dan bangsanya, dengan demikian pendidikan kejuruan harus selalu terkait dengan produktivitas (Supriadi, 2002), (Arikunto, 1988) Dengan demikian pendidikan kejuruan merupakan program yang secara langsung dikaitkan dengn penyiapan seseorang untuk suatu pekerjaan tertentu. Dalam pelaksanaannya pendidikan kejuruan masih menunjukkan adanya kelemahan pada konsep maupun pelaksanaannya, hal ini tampak kelihatan belum mampu menghasilkan lulusan yang siap kerja dan yang dapat memuaskan pelanggan khususnya dunia industry (Sidi, 2001), (Sukmadinata, 2006).  Karena itu isu penting yang  harus selalu dikedepankan dalam konteks  penyelenggaraan pendidikan di SMK ini adalah seberapa besar penyelenggaraan pendidikan kejuruan (SMK) sejalan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan tenaga kerja, dunia usaha maupun industri.

Pendidikan kejuruan yang dilaksanakan melalui SMK saat ini cenderung masih  terpisah dari dunia nyata karena, hal ini karena SMK masih merupakan  system pendidikan persekolahan yang bersifat konservtif dan tidak mudah berubah seiring dengan perubahan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Gejala”mismatch” antara lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan dunia usaha/industry, pada akhirnya melahirkan lulusan “underqualified”. Kondisi tersebut ditandai dengan: (1) struktur tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh pekerja kurang terdidik ; (2) penyiapan tenaga kerja tingkat menengah seakan-akan hanya menjadi tugas dan dilakukan oleh SMK; (3) tingkat pengangguran tamatan sekolah menengah sebesar 12% untuk tamatan SMK dan 18% untuk tamatan SMU  (4) penguasaan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja di Indonesia masih rendah dibandingkan tenaga kerja negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, sehingga tenaga kerja Indonesia sulit bersaing, bahkan tidak sedikit peluang pekerjaan yang ada di Indonesia sendiri diisi oleh pekerja asing (Supriadi, 2002).

Keadaan seperti ini sudah  cukup lama terjadi, bahkan sampai saat ini. Gejala ini merupakan permasalahan pendidikan dan mutu dan relevansi (Tilaar, 1997). Akar persoalan  tersebut tidak lepas  dari pengelolaan  sekolah yang  salah satu diantaranya terkait dengan  proses pembejaran. Persoalan yang terkait dengan proses pembelajaran ada kaitannya dengan komitment dan kinerja guru. Persoalan  yang utama dalam pembelajaran adalah bagaimana guru dapat mengelola agar pembelajaran yang dilaksanakannya itu bermutu, hal ini penting menjadi komitmen para guru, karena sekalipun kurikulum sudah dilakukan perubahan kearah yang lebih baik serta fasilitas pendidikan yang lengkap tidak akan memberikan dampak yang berarti pada peningkatan mutu pendidikan kalau tidak didukung oleh kinerja guru yang baik, yang mampu mewujudkan proses pembelajaran yang bermutu. Pembelajaran akan bermutu apabila guru mampu melakukan manajemen mutu  terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukannya.

Manajemen mutu diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran agar proses dan hasil belajar siswa menjadi berkualitas. Fandy Tjiptono mengemukakan ”untuk menghasilkan mutu terbaik diperlukan upaya perbaikan berkesinambungan terhadap kemampuan manusia, proses, dan lingkungan (Fandy Tjiptono, 2001). Direktorat Dikmenjur menegaskan bahwa agar dapat menjawab tantangan permasalahan ketenagakerjaan diperlukan lembaga pendidikan kejuruan yang handal dan mampu menerapkan manajemen mutu (Direktorat Dikmenjur Diknas, 2001)

Dilandasi oleh permasalahan di atas peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan maksud  ingin memperoleh gambaran  tentang manajemen mutu pembelajaran sebagai  upaya untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.   Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk 1) memverifikasi dan  mendeskripsikan data tentang rencana dan program pembelajaran yang dikembangkan oleh guru bidang produktif  dalam upaya meningkatkan  relevansi pendidikan; 2) memverifikasi, mendeskripsikan dan memaknai strategi pelaksanaan rencana dan program pembelajaran yang dilakukan guru produktif pada SMKN di Kota Bandung, 3) memverifikasi dan  mendeskripsikan   kegiatan evaluasi  yang dilaksanakan oleh guru bidang produktif pada SMKN di Kota Bandung; dan 4) memverifikasi tindak lanjut yang dilakukan oleh guru bidang produktif sebagai-upaya perbaikan guna mewujudkan pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Penelitian ini penting dilakukan karena guru SMK sebagai ujung tombak dalam pembelajaran di sekolah memegang peranan penting, guru diberikan kewenangan dalam mengembangkan kurikulum  atau program pembelajaran, yang dalam pelaksanaannya perlu menerapkan prinsip manajemen mutu agar kurikulum yang disusun akan relevan atau sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

           Manajemen mutu merupakan kegiatan yang diarahkan dalam upaya: memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten dan  mencapai peningkatan secara terus menerus dalam setiap aspek organisasi. Kegiatan dalam manajemen mutu tercermin dalam:  perbaikan terus-menerus untuk memenuhi kepuasan pelanggan, kerja sama, fokus pada pelanggan, berpikir jangka panjang dan pengambilan keputusan berbasis data. Menurut Gaspersz pada dasarnya manajemen mutu terpadu sebagai philosophy dan sebagai suatu “cara meningkatkan performansi secara terus-menerus pada setiap level operasi dan proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan sumber daya manusia dan modal yang tersedia” (Gasperst, 2005). Lebih lanjut  Gaspersz mengemuka manajemen mutu dapat dikatakan sebagai semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang menentukan kebijaksanaan mutu, tujuan dan tanggungjawab, serta mengimplementasikannya melalui alat-alat manajemen mutu, seperti perencanaan mutu, pengendalian mutu, penjaminan mutu, dan peningkatan mutu. Seluruh kegiatan dalam manajemen mutu semuanya ditujukan agar proses dan produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.

Mukhopadyay  mengemukakan “quality management has been defined as a set of concepts, strategies, tools and beliefs.etc., which are aimed at improving the quality of products and services reducing the waste and saving costs.” (Mukhopadhayay, 2005, p. 27) Ada juga yang menyatakan manajemen mutu sebagai kegiatan yang dilakukan manajer dalam melaksanakan kebijakan mutu, hal ini seperti dikemukakan oleh Gueorguiev bahwa  :”quality management includes all the activities that managers carry out in an effort to implement their quality policy. These activities include quality planning, quality control, quality assurance, and quality improvement. (Gueorguiev, 2006)  Dengan demikian pada dasarnya manajemen mutu merupakan upaya untuk mengorganisir kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang agar berjalan secara harmonis, lebih efektif dan efisien, dalam hal ini Myron Tribus menyatakan:”quality management is a different way to organize the effort of people. The objective is to harmonize their effort in such a way that not only do people approach their assigned tasks enthusiasm, but participate in improvement of how the gets done.” (Tribus, 2007, p. 2)

Dalam melaksanakan manajemen mutu suatu organisasi harus menganut filosofi membuat segala sesuatu dengan baik sejak dari awal proses hingga akhir proses produksi. Hal inilah yang mendasari konsep zero defect yang dikenal dalam manajemen mutu. Philip Crosby  memperkenalkan  empat philosofi management mutu: (1) The definition of quality is conformance to requirement,(2) The system of quality is prevention of problems, (3) The performance standard of quality is zero defect, and (4) The measurement of quality is the price of nonconformance, or the  of cost quality. (Lindsay William M, 1997)

Manajemen mutu berorientasi pada proses yang mengintegrasikan semua sumber daya manusia,  suppliers, dan para pelanggan di lingkungan lembaga. Hal ini berarti bahwa manajemen mutu berhubungan dengan kemampuan, pendelegasian kekuasaan tanggung jawab pada sumber daya manusia serta merupakan proses yang dapat dikontrol, dan bukan sesuatu yang kebetulan.

.  Manajemen mutu perlu dilakukan terhadap seluruh kegiatan  sekolah, termasuk terhadap masalah pembelajaran, karena pembelajaran akan bermutu apabila ada upaya yang dilakukan secara sistematis oleh guru, mulai dari merencanakan  pembelajaran, pelaksanaan dan evaluasi yang keseluruhannya selalu dikaitkan dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.

Kata pembelajaran terkandung dua kegiatan yaitu belajar dan mengajar. Kegiatan yang berkaitan dengan upaya membelajarkan siswa agar berkembang potensi intelektual yang ada pada dirinya. Ini berarti bahwa pembelajaran menuntut terjadinya komunikasi antara dua arah atau dua pihak yaitu pihak yang mengajar yaitu guru sebagai pendidik dengan pihak yang belajar yaitu siswa sebagai peserta didik. Pada hakekatnya pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang terarah pada tujuan pembelajaran yang telah ditentukan yaitu terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Mulyasa, 2002, p. 100), (Sudirwo, 2002, p. 31).

Mutu pembelajaran dapat dikatakan sebagai gambaran mengenai baik-buruknya hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Sekolah dianggap bermutu bila berhasil mengubah sikap, perilaku dan keterampilan peserta didik dikaitkan dengan tujuan pendidikannya. Menurut (Muljono, 2006, p. 29) bahwa konsep mutu pembelajaran mengandung lima rujukan, yaitu: “(1) kesesuaian, (2) daya tarik, (3) efektivitas, (4) efisiensi dan (5) produktivitas pembelajaran”.

  1. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.  Penelitian yang dilakukan berangkat dari permasalahan dalam lingkungan peristiwa yang sedang berlangsung dan bisa diamati serta diverifikasi secara nyata pada saat berlangsungnya penelitian. Peristiwa-peristiwa yang diamati dalam konteks upaya peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, yang dilaksanakan pengelola sekolah.   Subjek penelitian antara ketua program keahlian, guru pengampu rumpun mata pelajaran bidang produktif.   Pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan observasi dan wawancara mendalam (indepth), studi dokumentasi, rekaman dan foto.

Ada beberapa tahap yang dilakukan oleh peneliti dalam melaksanaan penelitian kualitatif ini., yaitu:(1) tahap orientasi, (2) tahap eksplorasi, dan (3) tahap “member chek” (Nasution, 1998, p. 33) Tahap Orientasi, pada tahapan ini diawali dengan rasa ketertarikan peneliti terhadap masalah manajemen mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru mengajar mata pelajaran kelompok bidang produktif. Tahap Eksplorasi,  pada tahap ini fokus telah lebih jelas, data dikumpulkan  lebih terarah dan lebih spesifik. Dilakukan melalui kegiatan observasi dan wawancara. Tahap “Member check”, tahap ini hasil pengamatan dan wawancara yang terkumpul, yang sejak awal telah dilakukan analisis, dituangkan dalam bentuk laporan, diperbanyak, dibagikan kembali kepada responden yang bersangkutan untuk dibaca dan dinilai kesesuaiannya dengan informasi yang telah diberikan. Dalam tahapan ini, dilakukan kegiatan triangulasi dan diskusi.

Sedangkan cara yang dapat ditempuh dalam analisis data, yaitu:1) reduksi data, 2).” Display” data, 3) mengambil kesimpulan dan verifikasi (Nasution, 1998, p. 129).

Pengecekan Keabsahan Data Penelitian

Pelaksanaan pengecekan keabsahan data didasarkan pada empat kriteria yaitu derajat kepercayaan, keteralihan, ketergantungan, dan kepastian (Meleong, 1998)

  1. Kredibilitas

Pengujian terhadap kredibilitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan triangulasi sumber data dan, serta member check.

  1. Transferabilitas

Pada dasarnya hasil penelitian ini tidak menutup kemungkinan dapat diaplikasikan pada situasi dan tempat lain, apabila memiliki karakteristik dan situasi yang sama. Untuk itu peneliti berusaha menyampaikan hasil penelitian secara rinci agar mudah dipahami dan dimaknai oleh siapapun yang tertarik dengan penelitian ini.

  1. Dependabilitas

Dependabilitas atau kebergantungan  dilakukan  untuk menangulangi kesalahan-kesalahan dalam konseptualisasi rencana penelitian, pengumpulan data, interpretasi temuan, dan pelaporan hasil penelitian. Untuk itu diperlukan depent auditor. Sebagai depent auditor dalam penelitian ini adalah para kepala sekolah.

  1. Konfirmabilitas

Untuk menentukan kepastian data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengkonfirmasi data dengan para informan atau para ahli.

 

  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  1. Rencana Pengembangan Program Pembelajaran di SMKN oleh Guru Mata Pelajaran Kelompok Produktif.

SMKN 1 dan SMKN 3 Bandung Untuk bidang bisnis manajemen memiliki 3 jurusan atau program keahlian, yaitu Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pemasaran dan . Penyelenggaran pendidikan pada SMKN ini  menggunakan kurikulum 2013 edisi revisi,

Kurikulum pada SMK di bagi pada tiga kelompok, yaitu:  1).  Kelompok Normatif, adalah mata pelajaran yang dialkokasikan secara tetap, yang meliputi: pendidikan Agama, Pendidikan Kewargaannegara,Bahasa Indonsia, Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, dan seni budaya. 2). Kelompok Adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi, dan Kewirausahaan  dan 3). Kelompok Produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan.

SMK Negeri 1 dan 3 telah menetapkan suatu standar kompetensi yang disepakati bersama oleh pihak-pihak yang berkepentingan, tertutama dunia usaha/industri dan asosiasi profesi. Kompetensi tamatan SMK  dirancang mengandung 3 komponen kompetensi yang merupakan kesatuan yang saling berkait dalam bentuk pribadi yang utuh para tamatan SMK Kompetensi tersebut meliputi: kompetensi normatif:  untuk membentuk kepribadian yang beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti luhur, memiliki rasa tanggung jawab baik secara pribadi, sebagai pekerja, maupun sebagai anggota masyarakat bangsa Indonesia pada umumnya. Komponen kompetensi adaptif: berisi kemampuan-kemampuan yang dapat membekali tamatan dalam dalam mengembangkan dirinya, seperti kemampuan berkomunikasi dan memanfaatkan informasi, berpikir logis dan kritis, dan memiliki motivasi untuk selalu ingin maju. komponen produktif: berisi kompetensi-kompetensi yang bersifat teknis (dalam bekerja) untuk masing-masing bidang keahlian

Pengembangan kompetensi di atas  menjadi target sasaran bagi guru dalam mengembangkan program pembelajarannya. Rencana atau program pembelajaran, berupa program semester, silabus maupun RPP. Khusus untuk Guru yang mengajar mata pelajaran kelompok produktif dalam pengembangan program pembelajaran diwujudkan dalam bentuk  silabus dan RPP. Setiap guru diwajibkan menyusun program tahunan/semester, silabus, dan RPP.Khusus  dalam mengembangkan RPP, para  guru bidang produktif terlebih dahulu melakukan analisis terhadap kondisi  siswa, sarana dan prasarana dan kompleksitas kegiatan,

Sedangkan dalam mengembangkan kompetensi kejuruan mengacu pada SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ). Hal ini agar rumusan kompetensi yang yang dikembangkan oleh guru relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.

Program pembelajaran termasuk  rumusan kompetensi yang sudah disusun oleh agar sesuai dengan kebutuhan dan harapan dunia usaha dan industri   disinkronisasi dan divalidasi oleh pihak dunia kerja serta asosiasi profesi dan unsur Perguruan Tinggi, antara lain: IAI (Ikatan Akutansi Indonesia) untuk program keahlian akutansi, Ikatan Sekretaris Indonesia (ISI) untuk program keahlian Administrasi Perkantoran,  ASPRINDO (Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia) untuk program keahlian Pemasaran. Dalam validasi dan sinkronisasi tersebut pihak asosiasi profesi serta dunia usaha dan industri memberikan masukan terhadap rumusan kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa SMK,  materi pelajaran  serta yang terkait soft skill,seperti: sikap, penampilan kerja, cara berpakaian dan etika kerja

Mengingat perkembangan yang terjadi di dunia usaha/industri begitu cepat,  setiap tahun atau dua  tahun sekali program pembelajaran yang dikembangkan oleh guru secara rutin dilakukan pengkajian ulang pada awal tahun ajaran.  Dengan dilakukan validasi dan sinkronisasi secara rutin diharapkan kurikulum tersebut tetap aktual, sehingga tamatan sekolah memiliki kemampuan dan kecakapan yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan dunia kerja. Dalam manajemen mutu  hal ini penting dilakukan sehingga standar atau program yang ditetapkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan (Dorothea, 2002), (Arcaro, 1995). Kurikulum SMK perlu memperhatikan kebutuhan dunia kerja sebagaimana dikemukakan oleh Shoemaker menyatakan; “curriculum for vocational starts with a job and with the student on job” (Arikunto, 1988, p. 243).

Penyelenggakan pendidikan di SMK Negeri 1 dan 3 mengunakan kurikulum 2013. Yang dalam pengembangannya selalu memperhatikan demand/market driven. Hal ini mengingat sifat pendidikan kejuruan yang diarahkan  untuk menyiapkan tenaga kerja, oleh karena itu perlu  memperhatikan dan menyesuaikan dengan permintaan pasar. Karena itu kurikulumSMK  selalu diupayakan agar selalu sesuai dengan kebutuhan, tantangan, dan dinamika dunia kerja. Ini mengindikasikan pendidikan kejuruan yang baik, hal seperti dikemukan oleh Rosemary Kolde yang menyatakan bahwa program pendidikan kejuruan dalam pengembangannya harus dikaitkan dengan sector pribadi dan mendukug dunia usaha dan industry (Kolde, 1994).

Dalam  pengembangan kurikulum menggunakan: 1). Pendekatan akademik, 2) Pendekatan kecakapan hidup, 3). Pendekatan kurikulum berbasis luas (BBC), 4). Pendekatan kurikulum berbasis kompetensi (CBC), 5). Pendekatan kurikulum berbasis pelatihan, 6). Pendekatan kurikulum berbasis produksi. Pendekatan-pendekatan tersebut melandasi setiap guru pada setiap program keahlian yang ada di SMK  dalam mengembangkan program pembejarannya. sehingga diharapkan lulusannya mampu bersaing di tingkat lokal, nasional bahkan tingkat internasional.

Dengan didasarkan pada pendekatan tersebut  kurikulum implementatif yang dikembangkan:

  1. Cakupan bidang yang dikembangkan dan diajarkan pada siswa bersifat fleksibel  menghadapi masa depan yang penuh dengan kemungkinan perubahan.
  2. Memberikan dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang betul-betul dasar bagi pengembangan selanjutnya
  3. Memberikan keterampilan secara mendasar dengan teknik kerja yang benar, sebagai dasar pengembangan profesi.

Dalam kurikulum SMK Negeri 1 dan 3 kegiatan pembelajaran untuk program produktif, dilakukan di sekolah dan di dunia usaha/industry atau praktek kerja industri yang ditujukan bagi siswa kelas XI semester 4 selama 3 bulan, dengan jumlah jam pelajaran sebanyak 600 jam. Program ini perlu diberikan untuk memberikan pengalaman bekerja kepada siswa, sehingga ketika siswa tamat menyelesaikan pendidikan di sekolah, ia sudah memiliki pengalaman kerja, yang bisa dijadikan bekal dalam mencari pekerjaan

Kompetensi siswa yang diharapkan dapat dikembangkan dalam program praktek kerja antara lain, untuk:

  1. Program keahlian Akutansi

Bagi siswa yang menuntut ilmu pada program keahlian akutansi diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan akutansi sehingga mampu mengelola usaha mandiri. Lapangan kerja yang dapat diisi adalah: a). tenaga akutansi perusahaan dagang dan jasa, b) tenaga akutansi perusahaan manufaktur dan c) administrasi keuangan.

  1. Program keahlian administrasi perkentoran

Bagi siswa yang menuntut ilmu pada program keahlian adminstrasi perkantoran diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai pengelolaan administrasi kantor, dengan lapangana kerja yang dapat diisi adalah:a) tenaga staf administrasi kantor, b) resepsionis, c) operator telefon, d) asisten sekretaris.

  1. Program keahlian penjualan/perdagangan

Bagi siswa yang menuntut ilmu pada program keahalian perdagangan/penjualan diharapkan memiliki pengetahuan dana keterampilan pengelolaan perdagangan/penjualan, dengan lapangan pekerjaan yang dapat diisi adalah: a), tenaga staf administrasi penjualan, b). operator mesin-mesin bisnis, c).pengurusan dokumen ekspor dan inport, d). pramuniaga, e). staf marketing, f).Staf pergudangan, g) pembukuan penjualan

Kompetensi yang dikembangkan dalam penyelenggaraan pendidikan di SMK Negeri 1 dan 3 Bandung, selain yang bersifat teknis, juga kemampuan non teknis yang mencakup dua hal, yaitu kemampuan-kemampuan perilaku normative, baik sebagai pribadi, sebagai mahluk social, maupun sebagai mahluk tuhan, kedua kemampuan-kemampuan berperilaku yang mengarah pada pengembangan diri, baik dalam rangka peningkatan prestasi kerja di lingkungan maupun peningkatan kualifikasi pendidikannya.

 

  1. Pelaksanaan Program Pembelajaran Oleh Guru Mata Pelajaran Kelompok Produktif

Sesuai dengan sifat pendidikan kejuruan yang lebih menekankan pada pengembangan keterampilan siswa, maka dalam mengimplementasikan  program pembelajaran atau kurikulum implementatif, guru di SMK Negeri 1 dan3  menggunakan pendekatan scientific dan berbagai model pembelajaran antara lain: 1) Discovery learning.2) Inquery Learning, 3) Problem Based Learning, 4). Project based learning dan 5) Production Based Training. Dalam pelaksanaan program pembelajaran, pihak sekolah juga mendatangkan guru tamu yang berasal dari dunia kerja. Contoh misalnya mendatangkan unsur perbankan kemudian dari Bursa Efek Jakarta.

Untuk pembelajaran mata pelajaran produktif lebih diarahkan pada kegiatan praktek, yang dalam pelaksaannya bisa dilakukan di kelas, laboraturium,  unit usaha  yang ada di sekolah  atau fasilitas lain yang bisa dijadikan tempat belajar atau praktek siswa. Unit-unit usaha yang ada di sekolah., seperti di Toko atau koperasi sekolah,  laboraturium, kantor sekolah.  Kegiatan pembelajaran untuk mata pelajaran produktif juga dilaksanakan di dunia usaha dan industry, baik instansi swasta maupun instansi pemerintah, dalam bentuk Prakerin atau praktek kerja industry,yang berlangsung selama 3 bulan  bagi siswa kelas XI. Pengalaman belajar di dunia kerja penting bagi siswa sekolah kejuruan, karena dunia kerja sebagai sumber belajar, melalui belajar didunia kerja siswa akan mendapatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai dalam dunia kerja (Soeharto, 1988), (Wenrich, 1988).

Kegiatan prakerin, merupakan  suatu strategi pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang berdasarkan prosedur dan standar kerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Dunia usaha industri  dipilih untuk program praktek kerja disesuaikan dengan  program keahlian dan diusahakan memilih dunia usaha/industri yang telah memiliki adminitrasi dan manajemen yang baik dan tertib (ada ijin usaha, struktur organisasi, memiliki peraturan kerja, dsb), lokasi dunia usaha berada di sekitar kota Bandung. Dalam melaksanakan kegiatan prakerin setiap siswa membawa buku Jurnal Kegiatan Siswa Prakerin.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan sekolah dalam Pelaksanaan praktek kerja industry antara lain:

  1. meliputi persiapan yang bersifat administrative, rapat koordinasi dengan Tim pelaksana, pertemuan dengan orang tua murid
  2. Pelaksanaan, meliputi:  pengarahan, pelepasan, penempatan, pelaksanaan prakerin, pengumpulan data dan monitoring.
  3. Evaluasi dan pelaporan, meliputi pelaksanaan ujian prakerin, sertifikasi.

Untuk kelancan program Prakerin ini pihak sekolah melakukan kerjasama dengan beberapa dunia usaha/industri untuk menyusun dan menetapkan program prakerin dan  bidang-bidang pekerjaan yang dibisa dikerjakan selama siswa prakerin.  antara lain:

  1. Bidang/Program keahlian Penjualan, bidang pekerjaanya, meliputi:
  2. Melakukan penjualan barang dagangan, yang meliputi: penjualan barang dagangan, sikap menjual, pengenalan mekanisme penjualan.
  3. Melakukan pembelian, meliputi: pengenalan barang, pengenalan prosedur pembelian.
  4. Pengelolaan Perdagangan, meliputi: penyediaan barang, pendistribusian barang,
  5. Penyajian penjualan barang, meliputi: penataan dan pengenalan barang, penggolongan barang,  penyusunan barang,  pemeliharaan barang, customer service.
  6. Administrasi Perdagangan, meliputi: pencatatan transaksi pada buku penjualan,.pencatatan transaksi pada bon penjualan,  pengiriman dan pengembalian
  7. Bidang/Program Keahlian : Administrasi Perkantoran, bidang pekerjaannya meliputi:
  8. Pengurusan surat keluar, meliputi: membuat dan pengetikan surat, pengekspedisian surat keluar
  9. Pengurusan surat masuk, meliputi: mencatat surat dan mendistribusikan surat.
  10. Pengelolaan arsip, meliputi: pengurusana surat, penataan berkas,  penemuan kembali arsip.
  11. Menangani telefon
  12. Penerimaan tamu
  13. Pengenalan dan pengoperasian mesin kantor (komputer, mesin tik, facimile dan foto copy)
  14. Pengelolaan administrasi barang, meliputi:membuat konsep kebutuhan barang, pembukuan barang, dan pelaporan administrasi barang.
  15. Kegiatan keprotokolan
  16. Administrasi Kepegawaian, meliputi: perencanaan pegawai, pengadaan pegawai, mutasi pegawai.
  17. Bidang/Program Keahlian: Keuangan/Akutansi, bidang pekerjaannya:
  18. Pengenalan badan usaha tempat latihan
  19. Pengenalan sistem akutansi pada perusahaan/instansi tempat latihan
  20. Mengidentifikasi bukti transaksi
  21. Pencatatan transaksi, membuat laporan keuangan dan mengoperasikan komputer
  22. Uji Kemampuan.

Dalam  prakerin setiap siswa memiliki guru pembimbing dari sekolah dan pembimbing  dari dunia usaha. Tugas utama guru pembimbing  adalah mengadakan  komunikasi  dengan  pembimbing dari dunia usaha dan memonitor kemajuan siswa di tempat kerja, memeriksa jurnal dan  menerima laporan, masukan dan saran   dari pembimbing  yang ada di dunia usaha berkaitan dengan prakerin siswa. Sedangkan tugas  pembimbing dari dunia kerja adalah menetukan kegiatan-kegiatan atau kemampuan-kemampuan yang dapat dipraktekan oleh siswa di dunia kerja, memberikan bimbingan dan pelatihan kepada siswa dalam bidang pekerjaan tertentu, membina masalah kedisiplinan, kemandirian, kerjasama, keterampilan dalam melakukan komunikasi dan memberikan penilaian atas hasil kerja siswa selama praktek  dengan menggunakan format penilaian yang telah disediakan dalam buku jurnal prakerin siswa.

Dalam pelaksanakan prakerin senantiasa ada   permasalahan, yaitu tidak semua kompetensi yang telah ditetapkan dalam  jurnal prakerin atau bidang pekerjaan yang sudah digariskan dalam program pelatihan   dapat direalisasikan, karena tidak setiap siswa mendapatkan atau diberikan   kesempatan untuk melakukan kerja yang sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan  di dunia usaha/industri tersebut, atau karena kegiatan yang dilaksanakan di dunia usaha/industri tidak  seluruhnya dapat mengaktualisasikan kegiatan/pekerjaan atau kompetensi yang telah ditetapkan dalam jurnal kegiatan prakerin.  Sebagai akhir dari kegiatan prakerin ini, setiap siswa diwajibkan membuat laporan, dan sebagai bukti telah mengikuti prakerin setiap siswa mendapat sertifikat dari dunia usaha/industri.

  1. Evaluasi Pembelajaran yang dilakukan Guru  Mata Pelajaran Produktif di SMK Negeri 1

Evaluasi pembeljaran yang dilaksanakan oleh guru mengajar mata pelajaran kelompok Produktif di SMKN 1dan 3 bertujuan   untuk mengetahui hasil belajar siswa sekaligus juga efektivitas proses pemebelejaran. Evaluasi terhadap siswa  dilaksanakan secara menyeluruh yang meliputi aspek  pengetahuan, sikap dan keterampilan pada setiap substantive yang dipelajari. Penilaian pengetahuan dilakukan guru dalam bentuk tes tertulis, tes lisan, penugasan. .Penilaian keterampilan dilakukan mealui penilaian kinerja, dan penilaian proyek, kedua penilaian ini dilakukan mengukur capaian pembelajaran berupa keterampilan proses dan/atau hasil produk

Penilaian yang dilakukan guru produktif di SMKN1 dan 3 dalam pembelajaran, dilakukan dalam bentuk:

  1. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik untuk setiap kompetensi dasar (KD)
  2. UTS dilakukan guru untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8-9 minggu kegiatan pembelajaran.
  3. UAS dilakukan oleh guru untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik diahir semester

Bentuk soal yang umumnya dikembangkan oleh  guru bidang produktif dalam bentuk kasus atau  masalah yang berkaitan dengan suatu tugas atau pekerjaan  Bentuk test ini dilakukan karena untuk mengetahui tingkat kemapuan siswa (kompetensi) dalam memecahkan masalah atau dalam mengerjakan suatu tugas/pekerjaan yang sesuai dengan program keahliannnya.

Sedangkan untuk kegiatan prakerin penilaian  dilakukan oleh guru pemimbing prakerin yang ada di tempat praktek siswa (DUDI). Penilaian ini dilakukan selama  siswa mengikuti prakerin,  dengan menggunakan format yang dikembangkan sekolah dan telah diselaraskan dengan standar kerja yang berlaku di dunia usaha dan industry.   Aspek lain yang dinilai dalam kegiatan prakerin ini adalah penilaian sikap dan kepribadian siswa selama melaksanakan praktek kerja, yang meliputi : kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, hubungan interpersonal, kerjasama, kemandirian, penampilan, kreatifitas kerja, etika kerja dan etos kerja.

 

  1. Bagaimanakah tindak lanjut dari kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh Guru bidang produktif.

Setiap selesai melakukan evalauasi hasil belajar, hasil jawaban siswa yang sudah dikoreksi dikembali kepada siswa, dalam lembar jawaban yang sudah dikoreksi diberikan catatan atau saran bagi siswa sebagi bahan perbaikan.

Kegiatan evaluasi yang dilakukan guru bukan hanya untuk mengetahui hasil belajar siswa atau  kompetensi siswa, tetapi dijadikan dasar untuk melakukan perbaikan dan pengembangan kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru. Hasil belajar siswa selain  digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, juga dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui pembelajaran remedial dan pengayaan. Pembelajaran remedial dilakukan oleh guru bagi siswa yang belum mencapai SKM, yaitu 70 sampai 75 dengan cara pemberian pembelajaran ulang dan pemberian tugas atau latihan khusus, serta pemanfaatan tutor sebaya. Sedangkan pembelajaran pengayaan dilakukan melalui belajar kelompok di luar jam pelajaran,  tugas atau belajar mandiri

Dengan demikian hasil penilaian yang dilakukan oleh guru, baik dalam penilaian harian, ulangan,UTS maupun UAS, hasilnya bukan hanya menggambarkan kompetensi siswa, juga akan menjadi umpan balik bagi guru untuk melakukan peningkatan dan perbaikan dalam melaksanakan proses pembelajaran atau dalam bentuk layanan individual dan kelompok bagi siswa yang belum mencapai standar minimal. Dalam konteks manajemen mutu itu penting dilakukan oleh guru, sebagaimana dikemukakan oleh Edward Sallis “Hasil dari proses evaluasi harus dibicarakan dengan murid. Hal ini bertujuan untuk melengkapi hasil evaluasi” (Sallis, 2013).

 

KESIMPULAN

Secara umum Guru-guru yang mengajar mata pelajaran kelompok produktif sudah melaksanakan manajemen mutu,  hal ini terlihat dari:1) proses merencakan program pembelajaran yang didasarkan atas analisis terhadap siswa, fasilitas sekolah dan aspek kompleksitas serta  memperhatikan kebutuhan dan harapan dunia usaha dan industry. 2) dalam pelaksanaan pembelajaran konsisten dengan rencana pembelajaran yang disusun, menggunakan berbagai macam model pembelajaran yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan bisa berkembang dengan baik, pembelajaran  dilaksanakan di sekolah dan di dunia kerja, yang menjadi masalah adalah dalam kegiatan praktek belum semua kompetensi yang ditetapkan bisa dikembangkan pada saat praktek kerja 3) Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, baik pengetahuan, sikap maupun keterampilan, 4) ada umpan balik terhadap hasil evaluasi, sebagai bahan untuk remedial dan pengayaan kepada siswa serta untuk perbaikan terhadap  proses pembelajaran

 

REKOMENDASI

  1. Bagi kepala sekolah perlu terus mempasilitasi para guru dalam kegiatan sinkronisasi dan validasi kurikulum agar kegiatan tersebut bisa terus berlangsung sehingga kurikulum yang dilaksanakan guru selalu relevan dengan perkembangan
  2. Bagi untuk terus melakukan sinkronisasi dan validasi program pembelajaran dengan dunia usaha dan industry, agar program pembelajaran yang dikembangkan senantiasa sesuai dengan perkembangan yang terjadai di dunia usaha dan industry
  3. Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah untuk selalu mengundang guru tamu dari dunia usaha dan industry untuk memberiksn wawasan kepada guru dan siswa tentang perkembangan yang terjadi di dunia kerja.
  4. Saran dan masukan untuk perbaikan program pembelajaran juga perlu dari alumni yang sudah bekerja dan yang berwirausaha agar menumbuhkan jiwa dan semangat wirausaha pada para alumni

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arcaro, J. (1995). Pendidikan Berbasis Mutu. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Arikunto, S. (1988). Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Jakarta: Depdiknas.

Direktorat Dikmenjur Diknas. (2001). Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas.

Dorothea, W. (2002). Manajemen Kualitas. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Fandy Tjiptono, A. (2001). Total Quality Management. Yogyakarta: Andi.

Gasperst, V. (2005). Total Quality Management. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Gueorguiev, T. (2006). education. Retrieved from www.qedu.ru.acad.bg.

Kolde, R. (1994). What Is Quality Vocational Education. Vocational Education Journal, 69.

Lindsay William M, P. J. (1997). Total Quality and Organizaation Development. St. Louis Press.

Meleong, L. (1998). Metoda Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Mukhopadhayay, M. (2005). Vocational Education Leadership: Determining Student needs. Journal of Vocational and Technical Education, 10, 1-10.

Muljono, P. (2006). Standar Proses Pembelajaran. Buletin BNSP, 1(2).

Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep Karakteristik Implementasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Nasution, A. (1998). Metodlogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Jemmar.

Sallis, E. (2013). Total Quality Management in Education. Yogyakarta: Ercisod.

Sidi, I. J. (2001). Membangun Masyarakat Belajar. Jakarta: Depdiknas.

Soeharto. (1988). Disain Instruksional Sebuah Pendekatan Praktis Untuk Pendidikan Teknologi Kejuruan. Jakarta: Depdiknas.

Sudirwo, D. (2002). Kurikulum Pembelajaran dalam Otonomi Daerah. Bandung: Andira.

Sukmadinata, N. S. (2006). Penendalian Mutu Sekolah Menengah Kejuruan. Bandung: Aditama.

Supriadi, D. (2002). Sejarah Pendidikan Teknik dan Kejuruan di Indonesia: Membangun Manusia Produktif. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Diknas.

Tilaar, H. (1997). Managemen Pendidikan Nasional. Bandung: Rosda Karya.

Tribus, M. (2007). Quality Management in Education. Retrieved from www.quality. mgmtingducation.

Wenrich, R. (1988). Administration Vocational education. New York: American Technical Publisher, Inc.

Pengumuman Terbaru

Halal Bil Halal Alumni Adpend 2019

JADWAL PERKULIAHAN SEMESTER GENAP 2018/2019

Surat Edaran tentang Pembayaran SPP/UKT, Kontrak Kuliah, dan Perwalian Daring Semester Genap 2018/2019 Bagi Mahasiswa UPI angkatan 2018/2019 dan Sebelumnya.